Kamis, 20 Januari 2011

Sepenggal Kisah Aci Kecil Si Penjual Cobek


Aci kecil sang penjual cobek di perempatan Jalan Riau

Hujan di sore itu baru saja reda, jalanan yang tadinya terbungkus debu tebal akhirnya berubah seakan menemani putaran waktu para bocah sang penjual cobek. Lampu merah, trotoar jalan, asap hitam kendaraan seakan setia menemani mereka  di setiap harinya, dan juga merubah mimpi seorang anak yang tersudutkan oleh angkuhnya roda kehidupan.
Cobek, Tahukah kalian ? benda setengah lingkaran yang terbuat dari batu yang biasa digunakan ibu untuk mengulek sambal. Karena terbuat dari batu, maka beratnya pun lumayan. Tidak pernah terbayang bagaimana mereka memikulnya dari jarak yang cukup jauh, hanya untuk menjajakan barang yang tidak setiap orang butuhkan. Dan yang lebih mengenaskan yang menjualnya adalah manusia berusia 8 – 10 tahun.
Bocah-bocah penjaja cobek di sekitar Kota Bandung kebanyakan berasal dari Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Jarak dari kecamatan tersebut ke pusat Kota Bandung bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam. Hari-hari biasa, mereka berangkat dari Padalarang ke Bandung setelah pulang sekolah atau siang hari. Sementara jika waktu libur, sejak pagi mereka sudah berangkat

"Biasanya kami naik KRD. Sampai di Bandung diterusin pake angkot," kata Aci (7), salah seorang bocah perempuan  penjual cobek, saat ditemui ia sedang termenung di atas trotoar jalan. “ tapi jika kemalaman saya suka memanfaatkan mesjid di sekitar sini” tambahnya dengan bibir sedikit gemetar.
Aci kecil datang dari padalarang menggunakan kereta kelas ekonomi atau yang biasa disebut KRD, Cobek-cobek yang dibawa Aci diproduksi di sebuah tempat di Padalarang. Aci sendiri tidak mengetahuinya, soalnya dia mendapatkan cobek tersebut dari ayahnya. "Kalau lokasi pembuatan cobeknya saya tidak tahu. Soalnya bapak yang bawa," ungkap Aci.


Lebih jauh Aci mengatakan, untuk berjualan cobek di Bandung, Aci tidak membawa perbekalan yang cukup. Yang penting, katanya asal bisa sampai di Bandung itu sudah bagus. Aci ternyata tidak sekolah lagi. Dia keluar dari sekolah dan membantu keluarganya mencari nafkah. Keuntungannya tidak seberapa dibanding dengan jerih payahnya berkeliling kota menjajakan batu uleken yang berat itu, Aci sengaja berjualan di pinggiran jalan seperti ini, karena menurutnya kalau jualan di pasar itu hal yang tidak mungkin, karena di pasar sudah banyak kios-kios yang menjual dagangan serupa.
Kalau hujan berjualan kalau panas juga berjualan, Aci tidak mengenal cuaca untuk menjajakan dagangannya, “buat saya ga ada bedanya mau hujan ataupun panas, yang saya tahu cuman bagaimana caranya saya bisa menjual cobek-cobek ini” tuturnya. Ia menghargai barang dagangannya dengan harga Rp 20.000 per buahnya. Jika senja datang dan tidak ada ongkos untuk pulang Aci biasanya bernaung di sebuah mesjid sekitaran Jalan Riau.
Mengapa harus Aci kecil? Yang hanya seorang bocah perempuan, Tubuh mungilnya belum mampu menahan beban seberat itu. Mereka memang masih bisa berjalan berkeliling, tapi kalau saja bahu bisa bicara, pastilah bahu itu sudah berteriak kesakitan. Dan kalau kaki bisa bicara, pastilah mereka sudah protes karena (sebetulnya) tak kuat menopang. “sebenarnya cape juga, tapi mau gimana lagi kalau ga gini saya ga makan” pungkas Aci yang sempat bercita-cita menjadi seorang guru.(Gilang Abimanyu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar