Senin, 08 November 2010

Masjid Al Imtizaj, Mesjid Baru Bergaya Etnis Tionghoa Di Bandung

kehadirannya diharapkan dapat menyatukan etnis tionghoa dan pribumi dalam satu agama


Satu lagi mesjid etnis tionghoa baru di Bandung, tepatnya di Jalan Banceuy No.8 atau yang dulu gedung tersebut lebih dikenal dengan nama Rumah Matahari yang sekarang diganti namanya menjadi Gedung Abdurrahman Bin Auf Trade Center (ATECE). Pada saat saya berkunjung, dari kejauhan sudah terlihat nuansa merah menyala dari arah bangunan masjid, Dengan ciri khas bangunan asli tionghoa sungguh sangat menarik perhatian setiap orang yang melewati jalan banceuy. “Masjid Al-Imtizaj mempunyai arti Pembauran atau dalam bahasa tionghoanya yaitu Ronghe” tutur irwan setiawan salah seorang pengurus bidang umum dari Masjid Al Imtizaj.
Al Imtizaj merupakan masjid dengan arsitek budaya tionghoa sehingga dapat disebut Kelenteng Berkubah karena dalam bangunan gapura yang berbentuk kelenteng tetapi di atasnya dibuat kubah yang biasanya menjadi lambang atau icon dari bangunan-bangunan masjid di Indonesia pada umumnya. Setelah melewati gapura yang indah, pengunjung akan langsung menemukan pintu mesjid dengan menuruni anak tangga terlebih dahulu. Kesejukan akan sangat terasa setelah berada didalam mesjid dan wangi cat kayu pun masih terasa karena bangunan lebih didominasi oleh bahan kayu, “maklumlah, kan mesjid ini masih baru jadi bau cat nya pun masih tercium” ujar irwan sembari tersenyum. Dua tiang besar berwarna merah, seakan menambah kesan kekokohan bangunan china di jaman dulu. Masjid Al-Imtizaj dibangun dimaksudkan untuk memperkaya seni masjid dengan budaya tiongkok dalam meningkatkan khasanah pembauran etnis tionghoa Islam dengan umat Islam lainnya. “Mesjid ini sangat terbuka untuk siapa saja, mau pribumi ataupun tionghoa kita sama muslim siapa saja bisa beribadah di mesjid ini” tandasnya.

Sejarah awal pembangunan masjid ini berawal dari keinginan Bapak HR. Nuriana (mantan gubernur jawa barat ) untuk membangun suatu Masjid bagi kaum saudara baru (muallaf) khususnya bagi saudara etnis tionghoa, karena perhatian serta pelayanan bagi saudara muda tersebut dirasa masih kurang. Rencana ini telah lama hingga beliau (HR. Nuriana) mencari tempat-tempat yang layak untuk dibangunkan sebuah masjid dengan budaya tionghoa tersebut. Dan setelah ditemukan gedung yang cocok untuk di bangun masjid, dilaksanakanlah Pertemuan dan survey awal dan itu dilakukan sampai  beberapa kali hingga disepakati suatu tempat bekas generator listrik. Mulailah survey oleh team arsitek/teknis untuk memastikan kelayakan serta draft desain dari masjid yang akan dibagun. Tim arsitek tersebut dikomandani oleh Ir. Danny Swardhani MBA, yang merupakan arsitek dari banyak masjid termasuk Masjid Atta'awun Puncak Bogor yang merupakan salah satu Monumen Kebersamaan Masyarakat Jawa Barat. Dalam waktu yang cukup singkat, awal bulan puasa 1429 H draft desain masjid oleh tim Bapak Ir. Danny Swardhani, MBA telah selesai dengan thema masjid kelenteng berkubah. Setelah pembangunan selesai lalu masjid tersebut diresmikan pada hari jumat (6/8) oleh Bapak HR.Nuriana dengan nama Masjid AL Imtizaj.(T3/Gilang Abimanyu)





1 komentar:

  1. halo.. membaca artikel anda, saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang masjid ini.. klo boleh tau, bagaimana caranya saya bertemu dengan sekretariat masjid tersebut? apa anda punya no telponnya? terima kasih ya..

    BalasHapus